Gerakan Literasi Gorontalo dan Semangat yang Perlu Dijaga

Sumber: Arsip Sampul Belakang

Gerakan literasi di Gorontalo tidak selalu harus dimulai dari panggung besar, program megah, atau seremoni yang riuh. Ia bisa tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari orang-orang yang saling berbagi bacaan, dari diskusi sederhana di sudut-sudut tempat, dari anak-anak yang mulai akrab dengan cerita, atau dari komunitas yang terus percaya bahwa membaca adalah cara lain untuk menjaga harapan.

Dalam beberapa tahun terakhir, semangat literasi di Gorontalo mulai menemukan bentuknya. Komunitas literasi, ruang-ruang diskusi, kegiatan berbagi bacaan, kelas menulis, hingga aktivitas kreatif bersama anak-anak muda menjadi tanda bahwa literasi tidak lagi dipahami sekadar sebagai urusan sekolah atau bangku perkuliahan. Literasi mulai bergerak sebagai praktik sosial yang kini hadir di kampus, di ruang publik, di ruang komunitas, bahkan di percakapan sehari-hari.

Namun, gerakan literasi juga menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Minat baca sering kali berhadapan dengan keterbatasan akses buku, minimnya ruang baca yang hidup, rendahnya keberlanjutan kegiatan, serta budaya digital yang membuat perhatian mudah terpecah. Di sisi lain, sebagian kegiatan literasi kadang berhenti sebagai acara sesaat, ramai ketika berlangsung, tetapi tidak selalu berlanjut dan berdampak menjadi kebiasaan.

Karena itu, tantangan terbesar literasi di Gorontalo bukan hanya bagaimana membuat orang datang di kegiatan diskusi ataupun membaca, tetapi bagaimana membuat bacaan dan diskusi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Literasi perlu dirawat sebagai kebiasaan, bukan sekadar program. Ia membutuhkan ruang yang terbuka, koleksi bacaan yang dapat diakses, percakapan yang hidup, dan orang-orang yang bersedia terus menggerakkan meski dengan langkah kecil.

Gorontalo membutuhkan gerakan literasi yang lebih membumi, dekat dengan anak muda, ramah bagi anak-anak, terbuka bagi masyarakat umum, dan tidak elitis. Buku perlu dihadirkan bukan sebagai benda yang jauh dan serius semata, tetapi sebagai teman untuk memahami diri, masyarakat, dan masa depan. Kita terus meyakini bahwa literasi adalah pekerjaan panjang. Ia tidak selesai dalam satu kegiatan, satu diskusi, atau satu unggahan. Ia tumbuh dari gerakan-gerakan kecil, dari ruang yang terus terbuka, dan dari percakapan yang tak pernah selesai. Di sanalah gerakan literasi perlu terus dijaga, meski sederhana namun terus berkelanjutan. Salam literasi!

Bagikan:

Bacaan Terkait