Memutuskan membaca buku ini karena penasaran bagaimana perspektif feminisme dalam psikologi dan tentu buku ini membuat diriku pribadi sampai membacanya berulang kali karena sejatuh cinta itu dengan isinya.
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan merupakan karya yang berupaya untuk membongkar berbagai konstruksi sosial yang selama ini membentuk kehidupan perempuan. Terdiri dari 3 BAB yang membuka pemikiran tentang bagaimana bentuk ketidakadilan yang terjadi pada perempuan. Dari memperkenalkan apa itu psikologi feminis, bagaimana perempuan berada pada standar masyarakat, sampai dengan bentuk-bentuk kekerasan yang dialami perempuan.
Melalui metafora “serigala betina”, Ester menggambarkan sisi perempuan yang liar, bebas, dan berani. Tetapi ditekan oleh norma sosial, budaya patriarki, dan tuntutan gender yang sudah mengakar lama dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini tidak sekadar berbicara tentang pemberdayaan perempuan dalam arti individual, tetapi juga mengajak pembaca melihat bagaimana sistem sosial bekerja dalam mengontrol tubuh, emosi, pilihan hidup, hingga identitas perempuan.
Ester Lianawati dalam bukunya ingin menjelaskan bahwa sejak kecil perempuan dengan lingkungan patriarkis telah diciptakan standar ideal feminitas yang harus dipenuhi. Seperti karakter-karakter fisik dan psikologis, termasuk di dalamnya adalah sikap dan perilaku yang harus dimiliki dan ditampilkan oleh setiap perempuan. Menjadi anak baik, tidak banyak menuntut, menjaga perasaan orang lain. Nilai-nilai tersebut kemudian membentuk pola pikir yang membuat perempuan sulit mengenali kebutuhan dan keinginannya sendiri.
Dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam lingkup keluarga, pendidikan, pekerjaan, hingga relasi romantis, perempuan kerap dihadapkan pada standar yang tidak seimbang. Mereka dituntut menjadi pintar tetapi tidak terlalu ambisius, mandiri tetapi tetap bergantung pada laki-laki, jika tidak cantik maka harus mengopensasinya dengan bakat lain, serta aktif bekerja namun tetap memikul tanggung jawab domestik.
Berangkat dari berbagai macam refleksi dan pengalaman perempuan, penulis ingin menunjukkan bahwa banyak perempuan hidup dalam kondisi terasing dari dirinya sendiri. Mereka lebih sering belajar mendengarkan suara orang lain daripada suara batin mereka. Sehingga muncul berbagai bentuk kelelahan emosional, kehilangan kepercayaan diri, hingga perasaan bersalah ketika mencoba memperjuangankan kebutuhan pribadi.
Dalam bukunya Ester mengatakan “Perempuan tidak akan hilang keperempuanannya hanya karena dia tidak punya pendamping laki-laki. Perempuan tidak kehilangan keperempuanannya hanya karena dia tidak punya anak, dan perempuan juga tidak akan kehilangan kefeminisannya dengan punya suami, dengan mencintai suami dan anak-anaknya.
Metafora serigala betina hadir sebagai simbol perlawanan terhadap beberapa kondisi di atas tersebut. Serigala betina melambangkan keberanian perempuan untuk mengenali identitasnya sendiri, menetapkan batasan, dan menolak berbagai bentuk penindasan yang dianggap normal oleh masyarakat.
Analisis dan Kritik Sosial
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menunjukkan bahwa persoalan perempuan bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan struktural. Banyak masalah yang dialami, perempuan sering dipahami sebagai kelemahan pribadi, pdahal sebenarnya berakar pada sistem sosial yang membatasi gerak mereka.
Masyarakat memberikan label negatif terhadap perempuan yang menunjukkan karakteristik yang sebenarnya diterima ketika itu dimiliki laki-laki. Perempuan yang tegas sering dianggap galak, perempuan ambisius dianggap egois, dan perempuan yang berani menyuarakan pendapat dianggap sulit diatur. Sementara karakteristik yang sama pada laki-laki sering dipandang sebagai bentuk kepemimpinan dan ketegasan.
Selain itu, Ester Lianawati memperlihatkan bagaiman kontrol sosial terhadap tubuh perempuan masih sangat kuat bahkan hal ini masih relate sampai dengan sekarang. Penampilan, cara berpakaian, pilihan menikah atau tidak menikah, bahkan keputusan memiliki atau tidak memiliki anak sering kali menjadi objek pengawasan dan penilaian publik. Kondisi ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan masih dipandang sebagai ruang yang boleh diatur oleh norma sosial dan kepentingan kolektif.
Dari perspektif feminisme, buku ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap patriarki yang tidak hanya bekerja melalui institusi sosial, tetapi juga melalui proses internalisasi. Banyak perempuan akhirnya menjadi pengawas bagi dirinya sendiri karena telah menyerap nilai-nilai yang menuntut mereka untuk selalu menyenangkan orang lain dan mengorbankan kebutuhan pribadi.
Sehingga dalam bukunya Ester menekankan sebagai perempuan jadilah liar artinya sebebas mungkin dari standar masyarakat apalagi soal mitos kecantikan. Untuk membebaskan perempuan lain maka bebaskanlah dirimu lebih dulu.
Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan dalam buku ini. Pembahasannya cenderung berfokus pada pengalaman psikologis dan kesadaran individu. Akibatnya, analisis mengenai faktor ekonomi, kelas sosial, atau ketimpangan struktural yang lebih luas tidak dibahas secara mendalam. Padahal pengalaman perempuan sangat beragam dan dipengaruhi oleh latar belakang sosial yang berbeda-beda.
Kesimpulannya buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan merupakan buku yang tidak hanya berbicara tentang pengembangan diri perempuan, tetapi juga menjadi kritik terhadap berbagai norma sosial yang membatasi kebebasan perempuan untuk menjadi dirinya sendiri. Melalui simbol serigala betina, Ester mengajak pembaca mempertanyakan nilai-nilai budaya yang selama ini dinormalisasi, tetapi sesungguhnya berkontribusi pada subordinasi perempuan.
Buku ini penting dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami hubungan antara pengalaman pribadi perempuan dengan struktur sosial yang lebih luas. Di tengah masyarakat yang masih dipengaruhi oleh nilai patriarki, buku ini menawarkan ruang refleksi sekaligus dorongan untuk membangun relasi yang lebih setara dan manusiawi. Dengan demikian, karya ini tidak hanya relevan sebagai bacaan psikologi populer, tetapi juga sebagai bahan kritik sosial terhadap budaya yang masih membatasi kebebasan perempuan.
