Bahasa Ibu

Ibu, kaulah orang pertama
yang mengajariku berjalan.
Dengan kedua tanganmu kau mengusir jatuh,
seolah tanah tak pernah diizinkan melukaiku.
Lalu kau mengajariku bicara.
Satu suku kata, satu demi satu.
Dan setiap huruf
yang berhasil keluar dari mulut kecilku,
kau rayakan seolah dunia baru saja menemukan bahasa.
Aku tumbuh.
Kakiku semakin jauh mengenal jalan.
Lidahku semakin fasih menyebut apa yang kurasa,
apa yang kulihat, dan apa yang menurutku tak semestinya terjadi.
Namun, Ibu…
Akhir-akhir ini kau tak lagi bertanya,
“Hari ini kau belajar kata apa?”
Kau hanya menggenggam tanganku
lebih lama dari biasanya.
Lalu dengan suara yang hampir pecah,
kau berkata,
“Nak… jangan terlalu banyak bicara.”
Bukan karena kau tak percaya pada isi kepalaku.
Bukan karena kau malu pada suaraku.
Melainkan karena dunia tak selalu ramah
kepada mereka yang berani mengucapkan kebenaran.
Kau takut trotoar kejam
tuk pejalan kaki.
Kau takut ombak laut
menggulung semua rahasianya.
Kau takut langit
menyimpan lebih banyak sunyi
daripada burung-burung.
Dan aku… untuk pertama kalinya,
melihat seorang ibu yang dahulu mengajariku
mengucapkan kata pertama,
kini mengajariku cara menelan kata-kata.
Sebab ternyata,
yang paling berat
bukan belajar berbicara.
Melainkan hidup di negeri yang membuat seorang ibu
lebih sering mendoakan keselamatan suara anaknya
daripada masa depannya.
Ruang Percakapan
Percakapan
Bagikan tanggapan, pertanyaan, atau sudut pandang setelah membaca tulisan ini.
