Titik Mula
Berawal dari sebuah wawancara pers usai acara kampus, Kawan Nikhen, Kawan Didin, dan Kawan Fityan dipertemukan. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah, benih kegelisahan tentang literasi mulai disemai.
Sebuah permulaan yang kemudian menjadi rumah bagi setiap cerita.
baca • bincang • berbagiKomunitas Literasi Sampul Belakang merupakan komunitas literasi yang mulai dirintis pada 25 Januari 2019. Komunitas ini hadir dengan tujuan sederhana, yakni berbagi bacaan, membangun ruang diskusi tentang buku, serta menumbuhkan semangat literasi di Gorontalo.
Melalui berbagai kegiatan literasi yang dilaksanakan secara sederhana dan berkelanjutan, Sampul Belakang berupaya menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bagi siapa saja yang mencintai buku dan pengetahuan.
Komunitas ini terbuka bagi generasi muda, maupun bagi siapa saja yang memiliki semangat muda untuk membaca, berdiskusi, dan ikut menyebarkan budaya literasi.
Perjalanan bukan garis yang lurus, melainkan rangkaian pertemuan yang terus menemukan bentuknya.
Berawal dari sebuah wawancara pers usai acara kampus, Kawan Nikhen, Kawan Didin, dan Kawan Fityan dipertemukan. Dari percakapan-percakapan sederhana itulah, benih kegelisahan tentang literasi mulai disemai.
Tepat pada 25 Januari, gagasan itu mewujud. Sampul Belakang resmi berdiri, ditemani langkah baru dari Kawan April dan Kawan Fikri. Perjalanan menelusuri jalanan dengan memanggul carrier berisi buku dimulai. Di bawah arahan Kawan Nikhen sebagai koordinator pertama dan lahirnya ide brilian "DINAMIS" dari Kawan Fikri, pondasi pergerakan ini perlahan terbentuk.
Tantangan sesungguhnya tiba, terlebih saat dunia dihentikan oleh pandemi. Namun, kami belajar meyakini bahwa gerakan literasi memang sebuah jalan sunyi, sebuah tantangan yang harus dihidupi dengan ketekunan.
Langkah mulai membumi. Kami membuka ruang rekrutmen pertama, memanggil kawan-kawan sefrekuensi untuk merawat dan membesarkan gerakan ini bersama-sama.
Pintu kembali dibuka. Keyakinan kami terbukti: komunitas ini telah menjadi rumah seutuhnya. Di bawah koordinator Kawan Mita, Sampul Belakang membuktikan bahwa gerakan ini mampu bertumbuh indah dan mandiri, bahkan tanpa campur tangan langsung para penggagasnya.
Rekrutmen demi rekrutmen menegaskan satu hal: akan selalu ada kawan-kawan yang datang silih berganti, dan masing-masing dari mereka selalu meninggalkan jejak karya terbaiknya di rumah ini.
Ada kalanya sebuah pergerakan perlu mengambil napas panjang untuk sekadar mengamati arah angin. Tahun ini adalah masa bagi kami untuk tenang membaca situasi, membiarkan dinamika mengalir tanpa harus memaksakan langkah-langkah besar. Namun, jeda bukan berarti henti. Di tengah masa tenang ini, tangan-tangan kami tetap setia merawat rumah ini, menjaga tradisi yang telah dibangun agar nyala Sampul Belakang tidak pernah surut.
Tahun berganti, pintu rumah tetap terbuka. Bersama lahirnya koordinator baru, Kawan Tian, kami merawat keyakinan bahwa gagasan ini akan selalu hidup di tangan mereka yang sudi merawatnya.
Tahun demi tahun yang telah terlampaui membawa kami pada sebuah keyakinan yang kian mengakar. Seiring kemudi yang kini diteruskan oleh Kawan Fikar, kami menyadari satu hal: niat baik tidak akan pernah tersesat. Ia akan selalu tahu cara menemukan jalannya sendiri, berdetak dan hidup di tangan kawan-kawan yang merengkuh tujuan yang sama.
Hal-hal sederhana yang kami bawa dalam setiap bacaan, diskusi, dan perjumpaan.
Ruang ini berdiri di atas fondasi kolektif tanpa sekat. Kami percaya bahwa benih literasi akan tumbuh paling subur saat dirawat bersama dalam semangat kesetaraan.
Mengabdi pada literasi berarti bersedia menempuh jalan sunyi. Kami tidak mencari sorak-sorai sesaat, melainkan menghidupi pergerakan ini dengan napas panjang yang konsisten.
Pemikiran menolak untuk diam. Kami menyediakan ruang yang lapang bagi gagasan-gagasan untuk terus bergerak, berdialektika, dan menemukan bentuk barunya seiring waktu.
Kami menolak hal instan dan dangkal. Sama seperti "sampul belakang" yang menyimpan makna di balik sebuah cerita, kami percaya setiap karya berhak direnungkan. Di ruang ini, kita tidak sekadar membaca, melainkan diajak untuk bertanya, meragukan, dan mencari makna. Sebab literasi bukanlah konsumsi informasi yang sepintas lewat, melainkan alat untuk memahami diri dan sekitar.
Sambutan, refleksi, dan catatan dari penggagas, kawan, maupun tokoh yang pernah bersinggungan dengan perjalanan Sampul Belakang.


“Sampul Belakang, anak yang kami kasihi sepenuh hati.
Sejak Januari 2019, sudah 7 tahun Sampul Belakang tumbuh, meranggas, dan mekar. Baik aku maupun Kak Fityan dan Didin—para penggagas—sama sekali tidak pernah berekspektasi terlalu tinggi. Sejak awal, kami hanya berharap Sampul Belakang tumbuh baik dan bisa memberi akses bacaan dan diskusi bagi orang-orang.
Namun, tak menyangka ternyata Sampul Belakang mekar melebihi ekspektasi kami. Dari yang awalnya kesulitan mencari anggota, kini tumpah ruah orang ingin bergabung dengan Sampul Belakang. Dari yang kami pun kesulitan mencari orang untuk datang meramaikan lapak baca dan diskusi, kini kerap diajak kolaborasi sana-sini. Sungguh, ini melampaui ekspektasi, tapi amat kami syukuri.
Melalui situs web ini, kami berharap akan ada lebih banyak orang yang bisa memetik kebaikan dari gerakan-gerakan kecil, tapi konsisten, yang terus dilakukan Sampul Belakang.
Mari mekar bersama, dan terus menebar kebaikan!


“Permulaan yang menjadi rumah.
Sampul Belakang lahir dari keyakinan sederhana bahwa buku tidak hanya sekadar dibaca, tetapi juga untuk dibagikan, diperbincangkan, dan menjadi jalan untuk saling bertumbuh. Dari ruang-ruang kecil dan pertemuan yang sederhana, komunitas ini berupaya menghadirkan tempat yang terbuka bagi siapa saja yang ingin merawat semangat membaca dan berbagi pengetahuan.
Kami percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan keberanian untuk memahami, bertanya, berdialog, dan melihat realitas dengan lebih jernih. Semoga Sampul Belakang terus menjadi ruang yang hangat, tempat bacaan menemukan pembacanya, dan percakapan kecil melahirkan gagasan yang bermakna.


“Ruang untuk membaca, ruang untuk tumbuh.
Manusia akan selalu hidup dalam ruang dan bacaan. Bukan hanya sekadar ruang yang terbatas pada ukuran tertentu, atau membaca untuk memaknai susunan kata dalam sebuah tulisan di atas kertas. Dua hal ini dimaknai lebih dalam sebagai cara untuk mengenali dunia, membaca fenomena dan menafsirkan kehidupan.
Tepat di titik ini, Sampul Belakang melihatnya sebagai arti dari literasi. Literasi yang bukan hanya sekadar membaca buku dan memaknai ruang pada batasan tertentu—namun sebagai keberanian untuk menafsirkan makna dari kehidupan melalui fenomena yang terjadi di sekitar, kembali mempertanyakan hal-hal yang dianggap sudah biasa, mempertemukan gagasan, dan membuka berbagai kemungkinan untuk memahami berbagai hal dari sudut pandang yang lebih luas.
Berangkat dari pemaknaan ini, Sampul Belakang berupaya untuk membuka ruang dan akses seluas-luasnya bagi setiap orang untuk membaca, berbagi pandangan, dan tumbuh bersama.
Selain merawat semua hal ini melalui dialog, diskusi dan berbagai kegiatan yang konsisten dilakukan, kami juga menggagas situs website ini untuk jangkauan yang lebih luas dalam menumbuhkan literasi melalui buku, diskusi dan cinta.
Beberapa fragmen pertemuan, percakapan, dan kebersamaan yang sempat kami abadikan.
Yang kami rawat bukan hanya kegiatan, tetapi percakapan yang terus hidup setelahnya.
