Catatan Dinamis

September yang Tak Pernah Selesai: Membaca Ingatan, Kekerasan, dan Jejak Kekuasaan

Setiap September, Indonesia kembali berhadapan dengan ingatan tentang sejumlah peristiwa kelam dalam perjalanan sejarahnya. Peristiwa tersebut mungkin telah berlangsung puluhan tahun lalu, tetapi pembicaraan tentangnya belum benar-benar selesai. Kata demi kata terus diperdebatkan bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana peristiwa itu diceritakan, siapa yang menentukan ceritanya, dan bagaimana cerita tersebut diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat Diskusi Manis Tiap Kamis (DINAMIS) yang digelar Komunitas Literasi Sampul Belakang dengan tema “September yang Tak Pernah Selesai: Membaca Ingatan, Kekerasan, dan Jejak Kekuasaan.” Diskusi menghadirkan Diki Ishak sebagai pemantik untuk mengajak peserta melihat kembali hubungan antara sejarah, ingatan, dan kekuasaan.

Diki memulai pembahasan dari sesuatu yang sering dianggap sederhana: cara sejarah ditulis. Sejarah yang kita kenal hari ini tidak hadir begitu saja. Ia ditulis, diajarkan, disimpan, kemudian diwariskan. Pada akhirnya, pengetahuan generasi sekarang dapat menjadi cerita yang disampaikan kepada anak-anak. Karena itu, ketika sebuah narasi sejarah berubah, yang berubah bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi juga cara generasi berikutnya memahami peristiwa tersebut.

Dari sini, sejarah tidak lagi sekadar persoalan menghafal tanggal, nama tokoh, atau urutan peristiwa. Ada pertanyaan yang lebih penting: mengapa sebuah peristiwa diceritakan dengan cara tertentu, bagian mana yang lebih sering ditampilkan, dan bagian mana yang justru jarang dibicarakan?

Pertanyaan tersebut membawa diskusi pada masa pemerintahan Soeharto. Sebuah masa yang kerap dibicarakan melalui pembangunan dan pencapaian stabilitas, tetapi sejarahnya juga memiliki persoalan serta korban yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kekuasaan. Membaca sejarah secara utuh berarti tidak hanya menerima satu sisi cerita, tetapi mencoba memahami berbagai pengalaman yang muncul dalam satu periode yang sama.

Pembicaraan kemudian bersinggungan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Istilah “Pancasila sakti” tidak hanya dipandang sebagai sebuah slogan, tetapi sebagai bagian dari narasi sejarah yang terbentuk setelah peristiwa politik tertentu. Dari sini muncul pertanyaan yang lebih luas: ketika negara membangun cerita tentang masa lalunya, siapa yang menentukan cerita tersebut dan bagaimana masyarakat menerimanya?

Pertanyaan itu menjadi penting karena sejarah tidak hanya berada di buku pelajaran. Cara masyarakat memahami masa lalu dapat memengaruhi persoalan di masa kini. Ketika sebuah narasi terus diulang, ia dapat membentuk cara pandang masyarakat terhadap tokoh, peristiwa, bahkan terhadap kekuasaan itu sendiri.

Di tengah perkembangan informasi yang begitu cepat, persoalan tersebut semakin relevan. Masyarakat hari ini memiliki akses terhadap berbagai sumber, tetapi banyaknya informasi tidak otomatis membuat seseorang memahami sebuah persoalan secara utuh. Kita dapat dengan mudah memilih informasi sesuai yang ingin kita dengar dan mengabaikan informasi bertentangan dengan pandangan sendiri.

Karena itu, salah satu pelajaran penting dari diskusi tersebut adalah perlunya membaca sejarah dan informasi secara kritis. Bukan berarti setiap cerita harus dicurigai atau setiap narasi harus dianggap salah, tetapi masyarakat perlu memiliki keberanian untuk bertanya: dari mana cerita ini berasal, siapa yang menyampaikannya, dan apakah ada sisi lain yang perlu diketahui?

Dari cara membaca sejarah, diskusi kemudian kembali kepada posisi masyarakat dalam kehidupan hari ini. Jika masyarakat hanya menjadi penerima cerita dan keputusan, maka ruang untuk mempertanyakan kekuasaan menjadi semakin kecil. Sebaliknya, masyarakat perlu memiliki ruang untuk memahami, bertanya, dan menyampaikan pandangannya terhadap berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Pada akhirnya, September Hitam dalam diskusi ini tidak ditempatkan semata-mata sebagai momentum untuk mengenang tragedi masa lalu. Ia menjadi pintu untuk melihat bagaimana ingatan bekerja, bagaimana narasi terbentuk, dan mengapa masyarakat perlu memiliki keberanian untuk membaca kembali sejarah.

Diskusi berlangsung hingga larut. Pertanyaan dan tanggapan  terus berkembang membuat moderator akhirnya perlu mencukupkan pembahasan, meskipun masih ada banyak hal yang dapat dilanjutkan pada kesempatan lain.

DINAMIS kali ini meninggalkan satu pelajaran penting: sejarah bukan sesuatu yang selesai ketika peristiwanya berakhir. Ia terus hidup melalui buku, cerita, informasi, dan cara sebuah generasi memandang masa lalunya.

Teruskan Bacaan

Bagikan tulisan ini

Jika tulisan ini terasa berarti, teruskan kepada pembaca lain.

WhatsApp Facebook X Telegram

Ruang Percakapan

Percakapan

Bagikan tanggapan, pertanyaan, atau sudut pandang setelah membaca tulisan ini.

0 tanggapan
Belum ada tanggapan.Jadilah yang pertama membuka percakapan tentang tulisan ini.